aku terkikis ke lubang senyap oleh waktu yang tak cukup sanggup menyapu bayang-bayang mu
seakan aku begitu kecil untuk berdiri di atas kenangan yang meraksasa
tidak kah kau ingat? kau seperti telah melepas tali yang menjerat leherku. namun ternyata, kau hanya memindahkan tali itu dan mengikatnya dalam hatiku
terkurat, itu aku di pelosok hatimu. hati yang menjadi aneh semenjak engkau terseret zaman
setiap aku bertemu malam, aku termenung. aku ingin menjauh dari sinaran bulan yang seolah sedang memelototi ku, seuntai jiwa yang berubah asing saat menjadi sepi tanpa hadirmu
kau tau jangkrik? ya, ada sarang jangkrik di dalam hati yang kau campakkan ini. sunyi, membosankan
aku ingin pulang saja dengan kereta dan kenangan tentangmu biar berjejeran di atas relnya. biar terlindas. hancur. berantakan. seperti aku sekarang ini. maka saat angin membawa bunyi kereta listrik itu untuk menepuk pundakku, ku harap seketika aku tersadar dari lamunan
sudah terlalu lama aku kikuk. ini lebih menyiksa daripada menahan kantuk, karna ada kuk yang tidak ku lepas, yang tidak aku letakkan di atas tangan malaikat Tuhan. itu engkau, sosok menyilaukan yang menipu ku dengan senyuman
apa aku cukup kuat dibelai takdir?
pertanyaan bodoh. sementara berat ku pikul penglihatanku
aku berubah ringan menarik urat, seakan senyum susah sekali. sudah seharusnya kah aku marah?
betapa aku ingin menarik segala nama hewan-hewan buas dan memperkenalkannya pada hatimu
aku rasa aku pantas kembali dan memaksa mu untuk membalas senyum yang lebih lebar daripada senyum para penipu. karna aku tak kan terharu saat memunggungi mu yang sedang mesra dengan orang yang beruntung, kau bisa jatuh ke tanah seperti bersama dedaunan kering kemudian tersapu angin sampai jauh dari pohonnya
maaf. ini maaf untuk diri ku sendiri, bukan untuk kau.
tapi sebentar jangan kemana-mana, bersiap-siap lah menyambut karma
helai demi helai kisah yang indah dikala dulu, itu akan segera terderai dikibas angin
wahai kekasihku, atas ulahmu di masa lalu, aku masih kacau seperti ini
hebat.
seakan aku begitu kecil untuk berdiri di atas kenangan yang meraksasa
tidak kah kau ingat? kau seperti telah melepas tali yang menjerat leherku. namun ternyata, kau hanya memindahkan tali itu dan mengikatnya dalam hatiku
terkurat, itu aku di pelosok hatimu. hati yang menjadi aneh semenjak engkau terseret zaman
setiap aku bertemu malam, aku termenung. aku ingin menjauh dari sinaran bulan yang seolah sedang memelototi ku, seuntai jiwa yang berubah asing saat menjadi sepi tanpa hadirmu
kau tau jangkrik? ya, ada sarang jangkrik di dalam hati yang kau campakkan ini. sunyi, membosankan
aku ingin pulang saja dengan kereta dan kenangan tentangmu biar berjejeran di atas relnya. biar terlindas. hancur. berantakan. seperti aku sekarang ini. maka saat angin membawa bunyi kereta listrik itu untuk menepuk pundakku, ku harap seketika aku tersadar dari lamunan
sudah terlalu lama aku kikuk. ini lebih menyiksa daripada menahan kantuk, karna ada kuk yang tidak ku lepas, yang tidak aku letakkan di atas tangan malaikat Tuhan. itu engkau, sosok menyilaukan yang menipu ku dengan senyuman
apa aku cukup kuat dibelai takdir?
pertanyaan bodoh. sementara berat ku pikul penglihatanku
aku berubah ringan menarik urat, seakan senyum susah sekali. sudah seharusnya kah aku marah?
betapa aku ingin menarik segala nama hewan-hewan buas dan memperkenalkannya pada hatimu
aku rasa aku pantas kembali dan memaksa mu untuk membalas senyum yang lebih lebar daripada senyum para penipu. karna aku tak kan terharu saat memunggungi mu yang sedang mesra dengan orang yang beruntung, kau bisa jatuh ke tanah seperti bersama dedaunan kering kemudian tersapu angin sampai jauh dari pohonnya
maaf. ini maaf untuk diri ku sendiri, bukan untuk kau.
tapi sebentar jangan kemana-mana, bersiap-siap lah menyambut karma
helai demi helai kisah yang indah dikala dulu, itu akan segera terderai dikibas angin
wahai kekasihku, atas ulahmu di masa lalu, aku masih kacau seperti ini
hebat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar